Rabu, 31 Oktober 2012

pemikiran pendidikan islam menurut Muhammad Abduh


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Muhammad Abduh adalah tokoh muslim yang sangat dikenal oleh pelajar atau mahasiswa Islam. Beliau dikenal dengan sosok seorang pemikir yang profesional terutama dalam dunia pendidikan.
Pemikiran Muhammad Abduh mengenai pendidikan ini, ialah pemikiran pendidikan yang lebih dilatar belakangi faktor situasi sosial keagamaan dan situasi pendidikan Islam yang sedang mengalami kemunduran baik di bidang ilmu pengetahuan dan bidang keagamaan.
Dan konsep pendidikan sampai dewasa ini nampaknya belum menghasilkan suatu perumusan yang mantap.Hal ini benar, dan kenyataan tersebut disebabkan bukan saja oleh kompleksnya masalah pendidikan, melainkan juga karena dunia pendidikan juga dituntut terus untuk memberikan jawaban baru yang relevan terhadap perubahan sosial yang bergerak begitu cepat.


1.2 Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Riwayat Hidup Muhammad Abduh?
2.      Bagaimana Ide Pemikiran dan Pembaharuan Muhammmad Abduh mengenai Pendidikan?

1.3 Tujuan

1.      Untuk Mengetahui Riwayat Hidup Muhammad Abduh.
2.      Untuk MengetahuiIde Pemikiran dan Pembaharuan Muhammmad Abduh mengenai Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1        Riwayat Hidup Muhammad Abduh[1]

            Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M atau 1265 H, disebuah desa agraris bapaknya bernama Abduh Hasan Khairullah  berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir, sedangkan ibunya berasal dari suku Arab. Pertama kali ia memperoleh pendidikan yang diselenggarakan di Masjid. Setelah ia pandai membaca dan menulis, ayahnya mengirim pada seorang Hafid untuk belajar Al-Qur’an dan di usia 12 tahun, ia telah mempu mengahafal Al-Qur’an secara keseluruhan. Tahun berikutnya, melanjutkan pendidikan ke Thanta lembaga pendidikan di Masjid Manawi tetapi ia tidak senang dengan metode pengajarannya, sehingga ia kembali ke daerah asalnya.
            Pada tahun 1866 dalam usia 20 tahun beliau menikah dengan modal niat mau menggarap ladang pertanian seperti halnya dengan ayahnya. Tidak lama menikah, ayahnya memaksa beliau untuk kembali ke Thanta tetap dalam perjalanan beliau tidak ke Thanta tetapi ke desa Kani Sahurin tempat tinggal Syekh Darwish Khadr yang belajar berbagai ilmu agama di Mesir. Syekh Darwish mendorong Muhammad Abduh untuk selalu membaca,  dan pernah membaca buku–buku lagi.
            Berkat dorongan dari Syaikh Darwis, Muhamad Abduh belajar di Thanta dan kemudian melanjutkan belajar di Al-Azhar dan bertemu dengan Jamaludin al-Afghani pada tahun 1869.Pertemuannya dengan Jamaludin al-Afghani mengubah pemikirannya dari penguasaan teori-teori ilmiah ke arah sikap praktis.
            Muhammad Abduh bersama gurunya al-Afghani aktif dalam berbagai bidang sosial dan politik yang kemudian menyebabkan ia bertempat tinggal di Paris dan menguasai bahasa Perancis, menghayati kehidupan masyarakat serta berkomunikasi dengan pemikir-pemikir Eropa.
            Muhammad Abduh bersama Jalaludin al-Afghani membentuk organisasi al-Urwatul al-Wutsqo di Paris dan menerbitkan majalah dengan nama yang sama, sebagai media perjuangan. Satu tahun kemudian Abduh diijinkan kembali ke Mesir, kemudian diangkat menjadi hakim pada Pengadilan Tinggi. Selanjutnya ia diangkat menjadi Mufti Negara hingga wafat pada tahun 1905. Muhammad Abduh termasuk salah seorang pembaru dan ali pikir Muslim yang hidup pada pertengahan abad ke-19 di Mesir.
           
2.2    Ide Pemikiran dan Pembaharuan Muhammad Abduh tentang Pendidikan

            Munculnya ide-ide pendidikan Muhammad Abduh tampaknya lebih dilatar- belakangi oleh faktor situasi, yaitu situasi sosial keagamaan dan situasi pendidikan pada saat itu.
            Yang dimaksud dengan situasi sosial keagamaan dalam hal ini adalah sikap yang umumnya diambil oleh umat di Mesir dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sikap tersebut tampaknya tidak jauh berbedah dari apa yang dialami umat Islam dibagian dunia Islam lainnya. Pemikiran yang statis, taklid, bid’ah dan khufarat yang menjadi ciri dunia Islam saat itu, juga berkembang di Mesir.Muhammad Abduh memandang pemikiran yang jumud itu telah merambat dalam berbagai bidang, bahasa, syari’ah, akidah, dan sistem masyarakat.
            Muhammad Abduh berpendapat bahwa penyakit tersebut, antara lain, berpangkal dari ketidak tahuan umat Islam pada ajaran sebenarnya, karena mereka mempelajarinya dengan cara yang tidak tepat.
            Situasi lain yang memunculkan pemikiran pendidikan Muhamad Abduh adalah sistem pendidikan yang ada saat itu. Seperti diketahui pada abad ke-19 Muhammad Abduh memulai pembaharuan pendidikan di Mesir pembaharuannya yang hanya menekankan perkembangan aspek intelek, mewariskan dua tipe pendidikan pada abad ke-20.Tipe pertama adalah sekolah-sekolah agama dengan al-Azhar sebagai lembaga pendidikan yang tertinggi.Sedangkan tipe kedua adalah sekolah-sekolah modern, baik yang dibangun oleh pemerintah Mesir, mupun yang didirikan oleh bangsa asing.Kedua tipe sekolah tersebut tidak mempunyai hubungan antara satu dengan lainnya, masing-masing berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan pendidikannya.Sekolah-sekolah agama berjalan di atas garis tradisional, baik dalam kurikulum maupun metode pengajaran yang diterapkan.
            Ilmu-ilmu Barat tidak diberikan di sekolah-sekolah agama. Dengan demikian pendidikan agama kala itu tidak mementingkan perkembangan intelektual, padahal Islam mengajarkan untuk mengembangkan aspek jiwa tersebut sejajar dengan perkembangan dengan aspek jiwa yang lain. Dari itulah agaknya pemikiran yang statis tetap mendominasi corak pemikiran guru dan murid saat itu, bukan hanya dalam tingkat awal dan menengah, tetapi juga dalam kalangan al-Azhar sendiri.
            Sekolah-sekolah pemerintah di pihak lain tampil dengan kurikulum yang memberikan ilmu pengetahuan Barat sepenuhnya, tanpa memasukkan ilmu pengetahuan agama ke dalam kurikulumnya.
            Dengan demikian, terjadi dualisme pendidikan yang melahirkan dua kelas sosial dengan spirit yang berbeda.Tipe sekolah yang pertama memproduksi ulama’ serta tokoh masyarakat yang enggan menerima perubahan dan cenderung untuk mempertahankan tradisi.Tipe sekolah yang kedua melahirkan kelas elite generasi muda, hasil pendidikan yang dimulai pada abad kesembilan belas.Dengan ilmu-ilmu Barat yang mereka peroleh, mereka dapat menerima ide-ide yang datang dari Barat.
            Langkah yang di tempuh Muhammad Abduh untuk meminimalisir kesenjangan dualisme pendidikan adalah uapaya menselaraskan, menyeimbangkan antara porsi pelajaran agama dengan pelajaran umum.Hal ini di lakukan untuk memasukan ilmu-ilmu umum kedalam kurikulum sekolah agama dan memasukan pendidikan agama kedalam kurikulum modern yang didirikan pemerintah sebagai sarana untuk mendidik tenaga-tenaga administrasi, militer, kesehatan, perindustrian.Atas usaha Muhammad Abduh tersebut maka didirikan suatu lembaga yakni “Majlis Pendidikan Tinggi”.Untuk mengejar ketertinggalan dan memperkecil dualisme pandidikan Muhammad Abduh mempunyai beberapa langkah untuk memberdayakan sistem Islam antara lain yaitu:

1. Rekonstruksi Tujuan Pendidikan Islam
Untuk memberdayakan sistem pendidkan Islam, Muhammad Abduh menetapkan tujuan, pendidikan Islamyang dirumuskan sendiri yakni: “Mendidik jiwa dan akal serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Pendidikan akal ditujukan sebagai alat untuk menanamkan kebiasaan berpikir dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.Dengan menanamkan kebiasaan berpikir.MuhaMmad Abduh berharap kebekuan intelektual yang melanda kaum muslimin saat itu dapat dicairkan dan dengan pendidikan spiritual diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya mampu berpikir kritis, juga memiliki akhlak mulia dan jiwa yang bersih.
Dalam karya teologisnya yang monumental Muhammad Abduh menselaraskan antara akal dan agama.Beliau berpandangan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan dengan perantara lisan Nabi di utus oleh Tuhan.Oleh karena itu sudah merupakan ketetapan di kalangan kaum muslimin kecuali orang yang tidak percaya terhadap akal kecuali bahwa sebagian dari ketentuan agama tidak mungkin dapat meyakini kecuali dengan akal.[2]

2. Menggagas Kurikulum Pendidikan Islam Yang Integral
Sistem pendidikan yang di perjuangkan oleh Muhammad Abduh adalah sistem pendidikan fungsional yang bukan impor yang mencakup pendidikan universal bagi semua anak, laki-laki maupun perempuan.Semua harus memiliki kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan menghitung.disamping itu, semua harus mendapatkan pendidikan agama.
Bagi sekolah dasar, diberikan pelajaran membaca, menulis, berhitung, pelajaran agama, dan sejarah Nabi. Sedangkan bagi sekolah menengah, diberikan mata pelajaran syari’at, kemiliteran, kedokteran, serta pelajaran tentang ilmu pemerintah bagi siswa yang berminat terjun dan bekerja di pemerintahan. Kurikulum harus meliputi antara lain, buku pengantar pengetahuan, seni logika, prinsip penalaran dan tata cara berdebat.
Untuk pendidikan yang lebih tinggi yaitu untuk orientasi guru dan kepala sekolah, maka ia mengggunakan kurikulum yang lebih lengkap yang mencakup antara lain tafsir al-quran, ilmu bahasa, ilmu hadis, studi moralitas, prinsip-prinsip fiqh, histogarfi, seni berbicara.
Kurikulum tersebut di atas merupakan gambaran umum dari kurikulum yang di berikan pada setiap jenjang pendidikan. Dari beberapa kurikulum yang dicetuskan Muhammad Abduh, ia menghendaki bahwa dengan kurikulum tersebut diharapkan akan melahirkan beberapa kelompok masyarakat seperti kelompok awam dan kelompok masyarakat golongan pejabat pemerintah dan militer serta kelompok masyarakat golongan pendidik. Dengan kurikulum yang demikian Muhammad Abduh mencoba menghilangkan jarak dualisme dalam pendidikan.
Adapun usaha Muhamad Abduh menggajukan Universitas Al-Azhar antara lain:
·         Memasukan ilmu-ilmu modern yang berkembang di Eropa kedalam al-Azhar.
·         Mengubah sistem pendidikan dari mulai mempelajari ilmu dengan sistem hafalan menjadi sistem pemahaman dan penalaran.
·         Menghidupkan metode munazaroh (discution) sebelum mengarah ke taqlid.
·         Membuat peraturan-peraturan tentang pembelajaran seperti larangan membaca hasyiyah (komentar-komentar) dan syarh (penjelasan panjang lebar tentang teks pembelajaran) kepada mahasiswa untuk empat tahun pertama.
Dalam bidang pendidikan nonformal Muhammad Abduh menyebutnya sebagai ishlah (usaha perbaikan). Dalam penyelenggaraan pendidikan ini ia melihat perlunya campur tangan pemerintah, terutama dalam mempersiapkan para pendakwah. Muhammad Abduh menekankan mereka dari golongan yang terdidik yang telah mendapatkan pendidikan dengan kurikulum pendidikan tingkat atas. Tugas mereka yang terutama adalah:
1.      Menyampaikan kewajiban dan pentingnya belajar
2.      Mendidik mereka dengan memberikan pelajaran tentang apa yang mereka lupakan atau belum mereka ketahui.
3.      Meniupkan kedalam jiwa mereka cinta pada Negara, tanah air dan pemimpin.
Di luar pendidikan formal pun Muhammad Abduh menekankan pentingnya pendidikan akal dan mempelajari ilmu-ilmu yang datang  dari Barat. Pendidikan akal menurutnya tidak hanya berlangsung dalam lembaga pendidikan formal, tetapi juga di luarnya, yaitu melalui pengamatan terhadap alam dan gejala-gejalanya.Banyak ayat-ayat Qur’an yang dapat dijadikan bahan latihan akal. Dari itulah ia mengatakan, bahwa Tuhan menurunkan dua kitab, yaitu kitab yang diciptakan berupa alam semesta dan kitab yang diwahyukan berupa kitab Qur’an yang mulia. Kitab Qur’an menurutnya diturunkan Tuhan untuk membimbing manusia meneliti alam yang diciptakan Tuhan melalui akal yang di anugerahkan-Nya. Dengan demikian keduanya pun merupakan sumber  pengetahuan dan mempelajarinya bisa melatih akal untuk berpikir.Di samping itu Muhammad Abduh pun menggalakkan umat Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu modern
Pemikiran pendidikan Muhammad Abduh yang demikian adalah merupakan konsep-konsep yang disusunnya yang belum pernah diterapkannya disekolah mana pun. Mungkin itulah sebabnya mengapa Muhammad al-‘Imarah menyebutnya sebagai suatu ide, bukan fakta yang disusunnya dari hasil pengalaman atau percobaan yang dilakukannya pada sebuah lembaga pendidikan.Meskipun demikian, konsep-konsep yang disusunnya itu menggambarkan pemikiran dan ide-ide baru yang dinamis, yang merupakan suatu terobosan yang dihargai dan disadari nilainya setelah wafat.[3]                      

3.    Metode Pendidikan Islam
            Yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik anak. Oleh karena itu, metode yang dimaksud di sini mencakup juga metode pengajaran.Sesungguhnya, membicarakan metode pengajaran terkandung juga dalam pembahasan materi pelajaran karena dalam materi pelajaran secara tidak langsung juga membicarakan metode pengajaran.
            Sebagai seorang idealis yang rasionalistis, Muhammad Abduh dalam kegiatan mengajar menekankan pada metode yang berprinsip atas kemampuan rasio dalam memahami ajaran Islam dari sumbernya yaitu al-Qur’an dan al-Hadist, sebagai ganti metode verbalisme (menghafal).Sering pula mengajarkan bahasa Arab dengan metode demonstrasi tentang cara-cara menulis huruf Arab dengan jelas dan sederhana.[4]
            Metode yang digunakan, oleh Muhammad Abduh diantaranya sebagai berikut:
1.                   Metode Menghafal
            Dalam bidang metode pengajaran Muhammad Abduh menggunakan metode menghafal yang telah dipraktekkan di sekolah sekolah saat itu.Karena metode menghapal ini pulalah Muhammad Abduh frustasi dan membenci belajar saat ia belajar di masjid Ahmadi Thanta. Muhammad Abduh mengkritik metode menghapal bukan berarti membenci metode tersebut, ia tidak setuju dengan metode ini kalau berhenti sampai di situ. Selanjutnya ia mengatakan: "Saya kata Muhammad Abduh, telah mengalami pengajaran seperti ini, belajar setahun setengah tanpa memahami sesuatu dari al-Kafrawi dan Ajrumiyah. Metode pengajaran ilmu nahwu tanpa memahami istilah-istilahnya telah membuatku (Muharnmad Abduh) tidak memahami sesuatu, akhirnya saya benci belajar dan putus asa, tetapi Allah ternyata menghendaki lain, bapak saya memaksaku untuk kembali belajar dan ditengah jalan saya menyimpang [pergi ke Kanisah Urin] ”
            Hendaknya metode menghafal ini hendaknya diteruskan pada pemahaman, sehingga dimengerti apa yang dipelajari. Menurut Arbiyah Lubis, dalam tulisan-tulisan Muhammad Abduh, ia tidak menjelaskan metode apa yang sebaiknya diterapkan, tetapi dari pengalamannya mengajar di Universitas al-Azhar, Mesir nampaknya ia menerapkan metode diskusi.

2.      Metode Diskusi
Dari pengalaman belajar Muhammad Abduh dan kritikannya terhadap metode menghapal, dapat diketahui bahwa ia mementingkan pemahaman, hal itu didukung oleh fakta metode yang ia praktekkan dan ia sukai metode diskusi.
Sewaktu Muhammad Abduh menafsirkan sebuah QS.al-Nisa ayat tiga puluh lima, dalam keterangannya tentang:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Wa bi walidain ihsaanan”
Disebutkan bahwa metode orang tua dalam mendidik anak di Mesir membuat anak sebagai manusia pasif, sehingga mereka (para orang tua) mendidik anak-anak dengan cara diktator. Kebanyakan orang tua mencetak anak-anak sesuai dengan kehendak mereka.Anak-anak dijadikan berpengetahuan atau berilmu sesuai dengan pengetahuan orang tua, anak-anak marah sesuai dengan marahnya orang tua. Anak-anak berbuat sesuai dengan keinginan orang tua, selanjutnya Muhammad Abduh berpikir dan kemudian bertanya: “Apakah dengan metode pendidikan seperti ini akan menghasilkan umat yang kuat dan adil sehingga mereka bebas dalam berbuat baik dalam bidang politik maupun dalam hukum ?”
Rumah adalah lembaga yang menciptakan pendidikan kediktatoran yang buruk dan mencetak kader-kader pemimpin yang zhalim dan yang hina.Para orang tua yang mendidik anak secara diktator sesungguhnya mereka yang gila akan kehinaan mereka anggap suatu kenikmatan dan keselamatan. Selanjutnya, Muhammad Abduh mengatakan,
“Wahai ulama agama dan adab, hendaknya kalian menerangkan kepada umat baik di sekolah-sekolah atau majlis-majlis apa kewajiban orang tua terhadap anak dan apa kewajiban anak terhadap orang tua, dan kewajiban umat terhadap dua kelompok itu.Hendaklah kalian tidak lupa kaidah atau teori kemerdekaan dan kebebasan.Dua kaidah itu adalah landasan dasar berdirinya bangunan Islam.Para sosiolog bagian utara yang berkuasa pada zaman ini (Roma) mengakui bahwa peradaban mereka maju karena mereka berlandaskan dua dasar di atas [kebebasan berpikir dan berbuat].
Pada penjelasan tersebut di atas, Muhammad Abduh berpendapat bahwa metode pendidikan dan pengajaran hendaknya memperhatikan kemampuan bakat dan minat anak didik. Dalam kata lain, metode pengajaran yang memberikan kebebasan berpikir dan berkreasi dalam pendidikan dan pengajaran adalah metode diskusi. Metode diskusi inilah yang banyak dipraktekkan oleh Muhammad Abduh dalam mengajar di Universitas al-Azhar Mesir. Menghapal dalam proses belajar tidak mungkin di dinafikan karena ia sangat esensial.Terbukti umat Islam banyak yang hapal al-Qur'an termasuk Muhammad Abduh, Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Muhammad Abduh tidak mengharamkan metode menghapal, tetapi dapat diketahui dari pengalaman dan kritiknya terhadap metode menghapal, sepertinya ia berpendapat bahwa metode menghapal tanpa pemahaman tidak baik (untuk tidak mengatakan buruk).

3.      Metode Tanya Jawab
Manusia berhak membuka jalan bagi penuntut ilmu untuk meneliti dalam berbagai ilmu pengetahuan. Contohnya:ia menerangkan kaidah atau sebuah teori, kemudian ia mencari kecocokannya dalam berbagai aspek pekerjaan. Dalam hal ini metode pengajaran, hendaknya guru mengajarkan kepada anak didik cara untuk mengetahui kesalahan dan cara kembali kepada yang benar. Cara yang demikianlah yang dipraktekkan oleh Muhammad Abduh ketika belajar sehingga ia menjadi seorang seorang ahli. Adapun untuk memperdalam suatu ilmu sangat tergantung pada usaha seorang anak didik setelah seseorang lulus dari suatu lembaga pendidikan, maka ia akan mengamalkan apa-apa yang ia peroleh ketika sekolah. Kemudian untuk memperdalam pengetahuannya itu, hendaknya ia belajar lebih lanjut.
         Muhammad Qodri Luthfi mengatakan bahwa Muhammad Abduh dalam mengajar menggunakan metode hiwar (tanya-jawab) dan munaqasah [diskusi] tidak hanya ceramah Memang dua metode tanya jawab dan diskusi bisa berdampingan bahkan pada setiap diskusi ada metode tanya jawab, tetapi mutlak dalam metode tanya jawab ada metode diskusi.

4.      Metode Darmawisata.
           Muhammad Abduh dalam pemikirannya sering membuat terobosan dalam pendidikan dan pengajaran.Dalam hal metode darmawisata misalnya menyebutkan bahwa rihlah adalah rukun dalam pendidikan.Ketika ingin mengajarkan kepada anak didik materi "pesawat" hendaknya mereka dibawa langsung ke bandara.Ketika ingin mengajarkan "kapal" hendaknya anak didik dibawa ke pelabuhan. Mereka sulit memahami sesuatu yang abstrak,
           Kalau dilihat contoh metode darmawisata tersebut di atas, dapat dipahami bahwa salah satu fungsi metode ini untuk dapat dipahami bahwa salah satu fungsi metode ini untuk dapat memahami materi kepada anak didik.Selain itu, metode darmawisata salah satu indikasi bahwa belajar tidak hanya di kelas.Metode pengajaran seperti disebutkan di atas sangat lebih tepat digunakan pada sekolah dasar dimana kemampuan berpikir abstrak anak didik belum matang.

5.      Metode Demontrasi
         Dalam menyampaikan materi Ilmu-ilmu praktis (fi'liyah) hendaknya tidak hanya diajarkan dengan menyampaikan ilmunya dengan caraberceramah, kemudian anak didik disuruh untuk menghafalnya ilmu-ilmu fi'liyah harus diajarkan dengan cara menyertakan prakteknya, seperti mengajarkan tata cara shalat lima waktu dengan mendemontrasikannya baik di depan kelas maupun di masjid. Lebih lanjut Muhammad Abduh mengatakan: Hendaknya guru mengadakan praktek mengajar di sekolah tidak hanya sebentar, tetapi dalam waktu yang cukup lama, sehingga para calon guru tersebut telah siap ilmu dan mentalnya untuk mengajar di saat mereka telah menjadi sarjana.

6.      Metode Latihan
           Untuk mengintegrasikan antara pendidikan akal dan jiwa, guru di sekolah harus menyuruh anak didik untuk melakukan shalat lima waktu. Bagi sekolah yang memiliki anak didik beragama non Islam seperti Kristen, maka guru hendaknya tidak menyuruh mereka untuk melaksanakan shalat, namun meskipun anak didik yang non Islam tidak melaksanakan shalat, tetapi nilai-nilai spiritual tersebut tidak boleh hilang dari mereka.
           Dari penjelasan tentang pembiasaan ibadah tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Muhammad Abduh sangat demokratis dan menghormati kebebasan beragama.Tetapi nilai-nilai akal [intelektual] dan jiwa [spiritual] bersifat universal, sehingga berlaku pada seluruh negara, suku, bangsa, agama, dan sebagainya.

7.      Metode Teladan
           Pendidik harus dapat mendidik anak didik untuk memiliki sifat kasih sayang terhadap sesama manusia.Dalam mengajarkan pesan kasih sayang itu, guru dapat memberi tauladan kepada anak didik.Tauladan yang baik jauh lebih berpengaruh kepada jiwa anak didik dari pada sekedar teori. Selain aspek tauladan, guru juga harus memperhatikan dan memilih gaya bahasa yang serasi untuk menyampaikan pesan sifat kasih sayang itu. Gaya bahasa yang digunakan guru juga harus memperhatikan aspek efektivitas dan efesiensi.
           Dari penjelasan tersebut di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pengajaran yang bertujuan untuk membina akhlak, hendaknya guru menggunakan bahasa yang baik mudah dipahami, jelas, dan tegas, disampaikan dengan uslub atau tata cara yang baik.
Dari beberapa usaha yang dilakukan oleh Muhamad Abduh, meskipun belum sempat ia aplikasikan sepenuhnya secara temporal. Telah memberikan pengaruh positif terhadap lembaga pendididkan Islam.Usaha Muhammad Abduh kurang begitu lancar disebabkan mendapat tantangan dari kalangan ulama yang kuat berpegang pada tradisi lama teguh dalam mempertahankanya.[5]
           
















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Konsep pendidikan Muhammad Abduh ditelah dari faktor-faktor pendidikan menunjukkan adanya relevansinya dengan Sistem Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, terutama pada tujuan pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk peserta didik yang memiliki iman dan takwa serta masih ada yang relevan pada bab yang lain yang dijabarkan pada pasal-pasal di dalam undang-undang tersebut.
Berangkat dari persoalan tersebut di atas, MuhammadAbduh mengkaji lebih jauh pemikiran tentang pendidikan Islam yang mewakili kelompok modernis-rasionalis. Atau dengan kata lain, kajian tentang pemikiran pendidikan Islam Muhammad Abduh berada pada wilayah historisitas-empiris yang responsif terhadap adanya perubahan.
Dengan demikian, Muhammad Abduh melakukan pembaharuan dalam pendidikan Islam dengan cara memgintegrasikan antara ilmu umum dengan ilmu agama. Pendidikan baginya bukan hanya bertujuan mengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tetapi jugaperlu menyelaraskan dengan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan). Sehingga Umat Islam terhindar dari kejumudan, keterbelakangan dalam berfikir dan taklid yang berlebihan.

                                                                                                    






DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muzayyin. 2009. Filsafat Pndidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Fatah, Yasin, A. 2008. Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam.Malang: UIN Press.
Jalaluddin, Usman, S. 1996. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada.
Lubis, Arbiyah.1993. Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh. Jakarta: PT. Bulan Bintang.
Suharto, Toto. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Taufik, Akhmad. 2005. Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.



[1]Akhmad Taufik, Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernnisme Islam. Hal.  93-94.
[2]Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammdiyah dan Muhammad Abdu. Hal. 152-156.
[3]Ibid. Hal. 157-161.
[4]Muzayyin Arifin. Filsafat Pendidikan Islam. Hal. 99.
[5]Toto Suharto. Filsafat Pendidikan Islam.Hal. 102-104.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates